4 Alasan Perempuan Sulit Menurunkan Berat Badan

Anda tentu sudah tahu kunci dalam menurunkan berat badan: mengatur pola makan (termasuk menguranginya) dan berolahraga. Tetapi jika Anda sudah melakukan cara ini, namun berat badan tidak juga turun bahkan malah bertambah, kemungkinan Anda memiliki kondisi kesehatan yang menyabotase upaya Anda untuk langsing ini. Gejala-gejalanya memang samar-samar, sehingga dokter pun seringkali tak menyadarinya. Namun pada dasarnya, ada empat hal yang menyebabkan perempuan sulit menurunkan berat badan.

1. Mengalami intoleransi makanan tertentu
Kebanyakan dari kita mudah mengenali gejala alergi makanan, misalnya, muncul bercak-bercak merah setelah mengonsumsi udang atau kepiting. Namun mayoritas pasti tak dapat membedakan apakah yang dimaksud alergi makanan dan intoleransi makanan. Dengan sendirinya, kita juga tidak tahu bagaimana menangani masalah ini.

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi makanan sebagai sesuatu yang berbahaya, dan reaksinya cukup cepat. Sedangkan intoleransi makanan punya berbagai penyebab, termasuk kurangnya enzim pencernaan tertentu (seperti pada kasus intoleransi laktosa), atau sensitif terhadap bahan tambahan makanan, dan cenderung akan terlihat setelah beberapa waktu, demikian menurut Elizabeth W. Boham, MD, RD, dokter keluarga di The UltraWellness Center di Lenox, Massachusetts.

Mengonsumsi makanan yang "bermasalah", seperti produk olahan susu, tepung, telur, kedelai, jagung, dan kacang-kacangan, bisa menyebabkan perut kembung dan menambah berat air. Gejala lain yang bisa Anda alami antara lain, diare, sembelit, asma ringan, eksim, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, dan kelelahan. Para ahli memperkirakan bahwa intoleransi makanan memengaruhi 1 dari 10 orang.

Ahli penyakit dalam atau ahli gastroenterology bisa saja mendiagnosa masalahnya, tetapi Anda juga bisa mencegahnya dengan memilih makanan yang benar. Dr Boham menyarankan untuk mulai menyingkirkan makanan yang mengandung zat tepung dan olahan susu (ini penyebab terbesarnya) selama dua sampai tiga minggu. Jika belum terlihat ada perubahan, hindari juga telur, jagung, kedelai, dan kacang-kacangan, serta makanan yang mengandung pewarna makanan dan bahan pengawet. Setelah beberapa minggu, perlahan kenalkan kembali makanan-makanan ini, satu demi satu, untuk mengetahui reaksinya.

2. Memiliki tiroid
Kelenjar tiroid berfungsi memproduksi hormon yang mengatur cara tubuh Anda menggunakan energi. Tiroid yang tidak aktif (hypothyroidism) bisa mengacaukan metabolisme Anda, selain memengaruhi aspek lain dalam kesehatan Anda. Diperkirakan, 10 persen orang dewasa (terutama perempuan) usia 40-50 tahun mengalami hypothyroidism.

Bagaimana gejala yang menunjukkan adanya hypothyroidism? Selain penambahan berat badan atau ketidakmampuan untuk menurunkan berat badan, Anda juga akan kelelahan, rambut rontok, kulit kering, nyeri sendi dan lemah otot, menstruasi yang berat, sensitif terhadap udara dingin, bahkan depresi. Namun orang yang mengidap hypothyroidism dalam kadar rendah hanya akan merasa lemas, tanpa ada tanda-tanda sakit.

3. Kekacauan hormon
Sebanyak 1 dari 10 perempuan usia produktif mengidap polycystic ovary syndrome (PCOS), atau sindrom ovarium polikistik. Inilah kondisi dimana indung telur perempuan memproduksi kelebihan hormon pria. Selain menyebabkan masalah ovulasi dan ketidaksuburan, PCOS juga akan menimbulkan resistensi insulin, yang merupakan suatu kesalahan dalam cara tubuh memproses gula darah. Kondisi ini sering dihubungkan dengan kelebihan penyimpanan lemak, khususnya di sekitar pinggang. Hati-hati, bila tidak dirawat, resistensi insulin bisa menyebabkan Anda mengidap diabetes tipe 2.

Bila Anda mengalami masalah ini, gejala yang umum terjadi adalah mens yang tidak teratur, rambut yang tumbuh berlebih di area tubuh dan wajah, jerawat, kebotakan dengan pola seperti pada pria, kesulitan hamil, bersama dengan pertambahan berat badan yang tak dapat dijelaskan penyebabnya. Namun, tidak semua orang dengan PCOS memiliki masalah berat badan.

4. Mengonsumsi obat-obatan tertentu
Beberapa jenis obat, seperti antidepresan, steroid, dan pil KB, memiliki beberapa efek samping seperti pertambahan berat badan. Hal ini disebabkan meningkatnya retensi air secara sementara. Coba Anda amati, jika berat badan Anda bertambah dalam beberapa bulan, bahkan beberapa minggu, setelah mulai mengonsumsi obat-obatan baru, artinya memang obat-obatan itulah penyebabnya.

Artikel Terkait Lainnya Seputar:



0 comments:

Poskan Komentar

 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 SourceFlame |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.